Minggu, 19 Juni 2011

makalah pertanian organik

Add caption

PERTANIAN PADI ORGANIK


Disusun Oleh :
SUHARDIN
201010200311023



JURUSAN AGROTEKHNOLOGI
 FAKULTAS PERTANIAN-PETRNAKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
                                                                                                            2011

KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena atas segenap rahmat dan hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan makalah ini
Dalam penulisan makalah ini, penulis tak lupa mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang membantu dalam penulisan makalah ini. 
Penulis menyadari segala yang penulis tulis pada makalah ini masih kurang sempurna, maka segala saran dan kritik yang bersifat membangun demi kesempurnaan makalah ini akan senantiasa penulis nantikan. Penulis juga berharap yang ditulis dalam makalah ini dapat berguna bagi pembaca.


Malang, 25 Mei  2011

Penulis

DAFTAR ISI

LEMBAR JUDUL ……………………………………………………………..…………..    I
KATA PENGANTAR ……………………………………………………………………….       II
DAFTAR ISI …………………………………………………………………………….........     III
DAFTAR TABEL ………………………………………………………………………........      IV
BAB I     PENDAHULUAN …………………………………………………………………….    5
    1.1 Pengertian Pertanian Organik ………………………………………………………    5
BAB II PEMBAHASAN ………………………………………………………………………    7
2.1 Dinamika Pasar Input-Output Komoditas Padi ……………………………………    7
    2.1.1 Dinamika Pasar Input ………………………………………………………..    7
2.1.2 Dinamika Pasar Output …………………………………………..    ………….    8
2.2 Implikasi Kebijakan …………………………………………………….…...….    9
2.3 Analisa Usaha Pertanian Padi Organik ……………………………...………........       10
2.3.1 Gabah Organik ……….…………………………............................................  11
2.3.1 Gabah Konvensional ………………………………………………………..    13

BAB III KESIMPULAN   
3.1     Kesimpulan …………………………………………………………….........         16

DAFTAR PUSTAKA ……………………………………………………............................        17


DAFTAR TABEL

Tabel Perbandingan Operasional Budidaya Organik dan Konvensional per hektar ……… 10

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Pengertian Pertanian Organik           
     Pertanian organik adalah teknik budidaya pertanian yang mengandalkan bahan-bahan alami tanpa menggunakan bahan-bahan kimia sintetis. Tujuan utama pertanian organik adalah menyediakan produk-produk pertanian, terutama bahan pangan yang aman bagi kesehatan produsen dan konsumennya serta tidak merusak lingkungan. Gaya hidup sehat demikian telah melembaga secara internasional yang mensyaratkan jaminan bahwa produk pertanian harus beratribut aman dikonsumsi (food safety attributes), kandungan nutrisi tinggi (nutritional attributes) dan ramah lingkungan (eco-labelling attributes). Preferensi konsumen seperti ini menyebabkan permintaan produk pertanian organik dunia meningkat pesat.

Indonesia memiliki kekayaan sumberdaya hayati tropika yang unik, kelimpahan sinar matahari, air dan tanah, serta budaya masyarakat yang menghormati alam, potensi pertanian organik sangat besar. Pasar produk pertanian organik dunia meningkat 20% per tahun, oleh karena itu pengembangan budidaya pertanian organik perlu diprioritaskan pada tanaman bernilai ekonomis tinggi untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik dan ekspor.
a. Penyediaan pupuk organik
     Permasalahan pertanian organik di Indonesia sejalan dengan perkembangan pertanian organik itu sendiri. Pertanian organik mutlak memerlukan pupuk organik sebagai sumber hara utama. Dalam sistem pertanian organik, ketersediaan hara bagi tanaman harus berasal dari pupuk organik. Padahal dalam pupuk organik tersebut kandungan hara per satuan berat kering bahan jauh dibawah realis hara yang dihasilkan oleh pupuk anorganik, seperti Urea, TSP dan KCl.
b. Teknologi pendukung
     Setelah masalah penyediaan pupuk organik, masalah utama yang lain adalah teknologi budidaya pertanian organik itu sendiri. Teknik bercocok tanam yang benar seperti pemilihan rotasi tanaman dengan mempertimbangkan efek allelopati dan pemutusan siklus hidup hama perlu diketahui. Pengetahuan akan tanaman yang dapat menyumbangkan hara tanaman seperti legum sebagai tanaman penyumbang Nitrogen dan unsur hara lainnya sangatlah membantu untuk kelestarian lahan pertanian organik. Selain itu teknologi pencegahan hama dan penyakit juga sangat diperlukan, terutama pada pembudidayaan  pertanian organik di musim hujan.
c. Pemasaran
     Pemasaran produk organik didalam negeri sampai saat ini hanyalah berdasarkan kepercayaan kedua belah pihak, konsumen dan produsen. Sedangkan untuk pemasaran keluar negeri, produk organik Indonesia masih sulit menembus pasar internasional meskipun sudah ada beberapa pengusaha yang pernah menembus pasar international tersebut. Kendala utama adalah sertifikasi produk oleh suatu badan sertifikasi yang sesuai standar suatu negara yang akan di tuju. Akibat keterbatasan sarana dan prasarana terutama terkait dengan standar mutu produk, sebagian besar produk pertanian organik tersebut berbalik memenuhi pasar dalam negeri yang masih memiliki pangsa pasar cukup luas. Yang banyak terjadi adalah masing-masing melabel produknya sebagai produk organik, namun kenyataannya banyak yang masih mencampur pupuk organik dengan pupuk kimia serta menggunakan sedikit pestisida.














BAB II
PENBAHASAN

2.1 Dinamika Pasar Input-Output Komoditas Padi
    Petani meningkat; urea meningkat dari Rp55.000 menjadi Rp65.000/sak atau harga eceran dari Rp1.100 menjadi Rp1.300/kg. Kenaikan harga pupuk urea ini diikuti dengan naiknya harga pupuk lain. Harga SP-36 meningkat dari Rp1.650 menjadi Rp1.750/kg, KCl dari Rp1.765 menjadi Rp1.865/kg, dan ZA dari Rp1.050/kg menjadi Rp1.200/kg. Kenaikan harga pupuk tersebut mendorong petani untuk mengurangi penggunaan pupuk baik jumlah maupun jenisnya. Sementara itu harga gabah pada musim hujan atau panen raya jatuh hingga hanya Rp850-Rp900/kg.Pasar Tenaga Kerja Upah untuk pengolahan tanah dengan traktor berkisar antara Rp300.000-Rp350.000/ha, tergantung jarak lahan sawah dari jalan serta sistem pembayarannya. Upah tanam berkisar antara Rp275.000-Rp300.000/ha dan dibayar secara tunai. Sistem upah harian sudah jarang ditemui. Untuk kegiatan pengolahan tanah dan penyemprotan, tingkat upah berkisar antara Rp20.000-Rp25.000/ hari dan untuk kegiatan lainnya Rp12.000-Rp15.000/hari. Pada sistem upah panen dengan bawon, yang pada dasarnya merupakan upah borongan dalam bentuk natura, tingkat upah pada sawah beririgasi teknis adalah 1/8 bagian untuk pemanen, dan pada sawah irigasi sederhana dan tadah hujan 1/7 bagian. Tingkat upah yang cukup tinggi tersebut, bila tidak diimbangi harga gabah yang memadai, akan menurunkan minat petani untuk menanam padi.

2.1.1 Dinamika Pasar Input
    1. Pasar Benih
        Pemasok benih padi di Kabupaten Sidrap adalah PT Sang Hyang Seri (40%), PT Pertani (30%), Balai Benih Induk (10%), produsen swasta (10%), serta kelompok tani binaan Dinas Pertanian (10%). Varietas yang dihasilkan oleh PT SHS di antaranya adalah IR42, IR66, IR64, IR74, Ciliwung, Celebes, Membramo, Towuti, Widas, dan Way Apo Buru. Sementara itu PT Pertani menghasilkan varietas Ciliwung, Selebes, dan varietas lain. Berbeda dengan di Jawa yang lebih menyukai IR64, petani di Sidrap lebih menyukai varietas Ciliwung. Luas pertanaman varietas ini mencapai 450 ha per tahun, sedangkan IR64 hanya 112 ha. Harga jual benih sampai di gudang penyalur (lini IV) adalah Rp2.350-Rp2.450/kg dan harga jual penyalur Rp2.500-Rp2.600/kg, sedangkan harga di pengecer Rp2.750-Rp2.850/kg. Harga benih berlabel dan risiko kegagalan panen yang makin tinggi menyebabkan petani di lahan sawah beririgasi hanya menggunakan benih berlabel satu kali setahun dan petani pada tipe lahan lainnya menggunakan benih berlabel satu kali tiap dua tahun. Setelah menggunakan benih berlabel, petani akan menggunakan benih hasil sendiri hingga 2-4 musim tanam. Kondisi ini diperburuk oleh sistem distribusi dan pemasaran benih padi yang hanya berdasarkan pada pesanan dari kios atau toko pertanian.
   
    2. Pasar Pupuk
        Penghapusan subsidi dan pembebasan sistem distribusi/pemasaran pupuk pada bulan Desember 1998 pada awalnya berdampak positif terhadap distribusi pupuk, karena mekanisme pasar semakin berjalan. Hal ini ditunjukkan oleh: (1) tumbuhnya agen penyalur pupuk baik di tingkat propinsi maupun kabupaten yang dapat mengakses ke lini II bahkan ke lini I, (2) tumbuhnya kios-kios di tingkat pedesaan sehingga ketersediaan pupuk di tingkat lokal lebih terjamin, (3) tumbuhnya persaingan yang sehat di antara pelaku pasar. Namun, pada MH 2000/2001 dampak negatif mulai
terlihat berupa kelangkaan pupuk terutama urea. Berdasarkan informasi dari Kantor Pemasaran Kabupaten (KPK) PUSRI Sidrap dan pedagang penyalur pupuk, kelangkaan tersebut disebabkan oleh: (1) setelah subsidi dicabut dan distribusi pupuk dibebaskan, tidak ada lagi yang bertanggung jawab atau menjamin pupuk hingga lini III; (2) timbulnya spekulan pupuk; (3) mengalirnya pupuk domestik ke luar negeri; (4) terhambatnya kegiatan bongkar-muat akibat hujan
yang terus-menerus padahal permintaan pupuk pada musim hujan ustru sangat tinggi. Kondisi ini menyebabkan harga pupuk di tingkat.

2.1.2 Dinamika Pasar Output.
    Surplus beras di Sulawesi Selatan menurut perhitungan Dinas Pertanian Propinsi dan Dolog kurang lebih 1,2 juta ton/tahun. Adanya surplus beras tersebut telah mendorong berkembangnya pemasaran beras ke luar daerah. Diperkirakan pengiriman beras antarpulau oleh
pedagang melalui pelabuhan Pare-Pare dan Makassar hanya 216 ribu ton, tetapi realisasinya mencapai sekitar 300 ribu ton. Surplus beras yang diserap Dolog dalam rangka
pengadaan beras nasional mencapai 267 ribu ton, dan pemasaran beras berkualitas yang diproduksiPT Pertani kurang lebih 8,04 ribu ton/tahun. Produksi beras Sidrap juga
diperuntukkan bagi pengadaan stok nasional melalui Dolog. Pada tahun 2001, pengadaan stok nasional oleh Sub Dolog wilayah III Sidrap terealisasi 98.556 ton gabah (setara 62.090 ton beras) dan dalam bentuk beras 6.208 ton. Jumlah ini meningkat hampir 71% dibandingkan dengan pengadaan tahun sebelumnya sebesar 40 ribu ton. Meskipun demikian, Dolog hanya mampu menyerap 15-20% dari surplus daerah. Harga pembelian Dolog pada MH 2001 sebesar Rp.1.500/kg GKG atau Rp.2.310/kg setara beras. Kendala yang dihadapi Dolog dalam menjalankan aktivitasnya adalah: (1) dicabutnya fasilitas KLBI untuk pengadaan beras, padahal Dolog masih dibebani misi sosial yaitu mempertahankan harga gabah. (2) dicabutnya kebijakan pemberian tunjangan beras bagi PNS dan menggantinya dalam bentuk uang, (3) penetapan harga dasar gabah dianggap terlalu tinggi, dan
(4) masuknya beras impor dengan harga yang lebih rendah. Harga gabah saat panen raya berkisar antara Rp.800-Rp. 900/kg GKP, sedangkan pada musim paceklik (Desember- Januari) harga bisa mencapai Rp.1.100-Rp.1.200/kg GKP. Kenaikan harga beras yang tinggi di Jakarta dan kota-kota besar di Jawa pada periode puncak krisis, hanya sedikit meningkatkan harga beras di Sulawesi Selatan. Harga beras kepala spesial naik dari Rp.2.900/kg menjadi Rp.3.100- Rp.3.200/kg, beras kepala super dari Rp.2.600/kg menjadi Rp.2.900/ kg, dan beras kualitas medium dari Rp.2.300 Rp2.400/kg menjadi Rp.2.500-Rp.2.600/kg. Harga beras selebes atau kristal produksi PT Pertani relatif stabil dengan harga Rp.3.800-Rp3.900/kg.

2.2 Implikasi Kebijakan.
    Adanya stagnasi luas areal tanam, panen, produktivitas, dan produksi menunjukkan kurang adanya insentif dalam usaha tani padi. Implikasi kebijakan yang diperlukan adalah: (1) pengkajian ulang kebijakan penghapusan subsidi benih dan pupuk, mengingat sebagian besar petani belum menggunakan benih berlabel dan pupuk secara berimbang; (2) pembangunan dan
pemeliharaan sarana dan prasarana irigasi yang kurang berfungsi, sedangkan penyerahan operasi dan pemeliharaan irigasi kepada petani perlu ditinjau kembali; (3) mengintesifkan kegiatan litbang terutama penemuan varietas unggul; varietas padi unggul yang ada seperti Ciliwung, IR64, IR66, dan IR74 sudah terlalu lama; (4) peningkatan eksistensi kelembagaan BPTP dalam menghasilkan teknologi spesifik lokasi; (5) penyuluhan dan bimbingan melalui kelompok tani dan demplot; (6) perlunya komisi atau badan perlindungan petani terhadap maraknya berbagai pupuk alternatif, PPC, dan obat-obatan yang diduga palsu; dan (7) menjamin berjalannya mekanisme pasar baik pada pasar input maupun output sehingga terbentuk pasar bersaing yang berkeadilan (Saptana).

2.3 Analisa Usaha Pertanian Padi Organik
    Berikut ini disajikan perbandingan analisis usaha budidaya organik dan konvensional pada padi. Analisis dibuat untuk luasan lahan satu hektar, nilai atau harga yang digunakan berlaku untuk daerah Lubuk Cemara, Kab Serdang Bedagai , Sumatra Utara pada Musim tanam bulan Mei – Agustus Tabel 1
Tabel Perbandingan Operasional Budidaya Organik dan Konvensional per hektar

No                   Organik              Konvensional           
1    BENIH    10 kg    Rp 10.000    Rp 100.000         40 Kg    Rp 6.500    Rp 260.000      
2    PUPUK DASAR                                         
     Kompos
Bahan Fermentasi
KCL
SP36
Pupuk Organik    2000 Kg
2 Kg


10 lt    Rp 750
Rp 40.000


Rp 40.000    Rp 1.500.000
Rp 80.000


Rp 400.000         -
150 Kg
100 Kg
100 Kg
-    -
Rp 1.400
Rp 2.800
Rp 1.850
-    -
Rp 210.000
Rp 280.000
Rp 185.000
-      
3    PUPUK SUSULAN                                         
     Kompos
Urea
KCL
SP36
Pupuk Organik    -
-


7 kg    -
-


Rp 70.000    -
-


Rp 490.000         -
100 Kg
50 Kg
50 Kg
-    -
Rp 1.400
Rp 2.800
Rp 1.850
-    -
Rp 140.000
Rp 97.500
Rp 92.500
-      
4    PENYEMPROTAN                                         
     Pupuk Organik    5 lt    Rp 40.000    Rp 200.000                          
5    PESTISIDA                                         
     Pestisida Organik
Pestisida Kimia    2
-    Rp 40.000
-    Rp 80.000-
-         -
10 lt    -
Rp 50.000    -
Rp 500.000      
6    TENAGA KERJA                                         
     Pengolahan lahan
Penanaman
Penyulaman
Penyiangan
Pemupukan
Penyemprotan
Pemanenan              Rp 625.000
Rp 450.000
Rp 200.000
Rp 150.000
Rp 100.000
Rp 50.000
Rp 1.875.000                   Rp 625.000
Rp 450.000
Rp 200.000
Rp 150.000
Rp 100.000
Rp 50.000
Rp 1.125.000      
                                               
7    Biaya Non Tehnis                                         
     Bunga Pinjaman Tengkulak
Potongan hasil Panen    -

-    -

-    -

-         15%

4%    Rp 5.376.704

Rp 11.250.000    Rp 806.506

Rp 450.000      
     TOTAL MODAL              Rp 6.100.000                   Rp 5.721.506      
     HASIL    7.500 Kg    Rp 2.500    Rp 18.750.000         4.500 Kg    Rp 2.500    Rp 11.250.000      
     KEUNTUNGAN              Rp 12.650.000                   Rp 5.528.494   
Terlihat bahwa, biaya operasional budidaya padi dari penyediaan benih hingga penanaman padi organik Pola LMTO dan konvensional tidak terlalu berbeda. Perbedaan tampak pada penggunaan asupan-asupan eksternal bagi perawatan tanaman.
Pada budidaya organik Pola LMTO penggunaan pestisida organik tidak mutlak dibutuhkan, bila di butuhkan cukup dengan pemakaian 2 lt/H dengan harga Rp 40.000/lt
Dengan asumsi tidak terjadi puso dan lahan organik telah terbentuk, setiap hektar sawah akan mampu menghasilkan gabah 7.5 ton, sedangkan sawah konvensional menghasilkan gabah 4.5 ton/H .. Bila harga gabah organik Pola LMTO dan konvensional dihargai sama yaitu Rp. 2.500,- per kilo gram, maka petani organik akan mendapatkan pendapatan sebesar Rp. 18.750.000,-. Dengan demikian, keuntungan petani organik sebesar Rp. 13.140.000,- dan petani konvensional hasil gabah sebesar Rp. 11.250.000,-, keuntungan Rp 5.528.494. Artinya, dilihat dari sudut asupan pertanian saja dengan cara membandingkan hasil pendapatan, budidaya pertanian organik dengan pola LMTO lebih menguntungkan 50 persen dibandingkan dengan pertanian konvensional.
Dari segi aspek bisnis Kilang Padi, budidaya pertanian organic Pola LMTO lebih menguntungkan karena rendemen gabah lebih tinggi, budidaya konvensional rendenem 50%. Pola LMTO bisa mencapai 60 – 70 %. Jadi ada selisih 10-20%.
Hal lain dari budidaya konvensional yaitu pengaruh dari para tengkulak yang telah lama berperan dalam keterpurukan petani Indonesia, karena memanfaatkan mereka sebagai lahan bisnis dengan cara yang tidak adil.
Dalam data di atas, tidak dimasukannya biaya sewa lahan karena biaya tersebut dapat dianggap sama antara lahan organik Pola LMTO dan non organik.
Ditinjau dari kelayakan usaha, secara finansial dapat dilihat dari BEP (break event point), radio B/C (benefit cost), dan ROI (return of investment) dengan asumsi menggunakan harga beras organis dan non organik saat ini.
1. Gabah Organik
a. BEP
Suatu usaha budidaya dikatakan berada pada titik impas atau balik modal berarti bahwa besarnya hasil sama dengan modal yang dikeluarkan. Perhitungan BEP ada dua, yaitu BEP volume produksi dan BEP harga produksi.
BEP Volume produksi = Biaya produksi = Rp. 5.610.000,- = Rp. 2.244/Kg
Harga produksi Rp. 2.500,-
Artinya, titik balik modal usaha budidaya organik Pola LMTO dapat tercapai pada tingkat volume produksi sebanyak 2.244 kilogram untuk sekali panen.
BEP harga produksi = Biaya operasional = Rp. 5.610.000,- = Rp.748,-/Kg
Jumlah produksi 7.500,- kg
Artinya, titik balik modal tercapai bila harga gabah organik Pola LMTO yang diperoleh dijual dengan harga Rp.748,- per kilogram.
Rasio B/C
Rasio B/C merupakan ukuran perbandingan antara hasil penjualan dengan biaya operasional. Dengan rasio B/C akan diperoleh ukuran kelayakan usaha. Bila nilai yang diperoleh lebih dari satu maka usaha dapat dikatakan layak untuk dilaksanakan. Namun bila kurang dari satu maka usaha tersebut dikatakan tidak layak.
Rasio B/C = Hasil Penjualan = Rp. 18.750.000,- = 3.34
Biaya Operasional Rp. Rp. 5.610.000,-
Artinya biaya yang dikeluarkan sebesar Rp. 18.750.000,- akan diperoleh hasil penjualan sebesar 3.34 kali lipat sehingga sangat layak untuk diusahakan.
ROI (return of investment)
Analisis ROI merupakan ukuran perbandingan antara keuntungan dengan biaya operasional. Analisis ini digunakan untuk mengetahui efisiensi penggunaan modal.
ROI = Keuntungan x 100% = Rp. 13.140.000 x 100% = 3.34%
Biaya Operasional Rp. 5.610.000,-
Artinya biaya yang dikeluarkan sebesar Rp. 100,- akan dihasilkan keuntungan sebesar Rp. 334,-, sehingga penggunaan modal untuk usaha ini sangat amat efisien.

2. Gabah Konvensional
a. BEP
BEP Volume produksi = Biaya produksi = Rp 5.721.506,- = Rp. 2.288,60 Kg
Harga produksi Rp. 2.500,-
Artinya, titik balik modal usaha budidaya konvensional dapat tercapai pada tingkat volume produksi sebanyak 2.288,60 kilogram untuk sekali panen.
BEP harga produksi= Biaya operasional = Rp. 5.721.506,- = Rp.1.271.44,-/Kg
Jumlah produksi 4.500,-kg
Artinya, titik balik modal tercapai bila harga gabah konvensional yang diperoleh dijual dengan harga Rp. 1.271.44,- per kilogram.
Rasio B/C
Rasio B/C = Hasil Penjualan = Rp. 11.250.000,- = 1.96
Biaya Operasional Rp. 5.721.506,-

Artinya biaya yang dikeluarkan sebesar Rp. 5.721.506,- akan diperoleh hasil penjualan sebesar 1.96 kali lipat sehingga layak untuk diusahakan.
ROI (return of investment)
ROI = Keuntungan x 100% = Rp. 5.528.494
Add caption
x 100% = 96.6%
Biaya Operasional Rp 5.721.506
Artinya biaya yang dikeluarkan sebesar Rp. 100,- akan dihasilkan keuntungan sebesar Rp. 96.6,-, sehingga penggunaan modal untuk usaha ini masih efisien.


BAB III
KESIMPULAN

Dari uraian diatas dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :
Pertanian padi organik sangatlah baagus untuk dibudidayakan karena mengingat kelangkaan pupuk subsidi dan sangat baik untuk menjaga kesuburan tanaman maupun tanah itu sendiri.
Pertanian padi organik juga efisien dengan tumbuhnya hama dan penyakit
Nilai ekonomis pasar tentang produksi padi organik juga tinggi baik dipasar domestic maupun pasar internasional.





















DAFTAR PUSTAKA

Dewi. 2011. “Prospek Pertanian Organik Di Indonesia” (online)
http://dewiseptianawati.blogspot.com/2011/02/subsidi-pupuk-dan-mekanisme-pasar-pada.html.
Di akses 25 Mei 2011
Hutauruk, J. 1996. “Analisis Dampak Kebijakan Harga Dasar Padi dan Subsidi Pupuk
Terhadap Permintaan dan Penawaran beras di Indonesia”. Tesis Magister Sains:
Institut Pertanian Bogor.

 lmto. 2008. “Pertanian Padi Organik”. (online). http://into.blogspot.com/2008/1/ Analisa-Usaha-Pertanian-Padi-Organik.html.  Di akses 27 Mei 2011

1 komentar:

  1. MARI KITA BUAT PETANI TERSENYUM
    KETIKA PANEN TIBA

    Petani kita sudah terlanjur memiliki mainset bahwa untuk menghasilkan produk-produk pertanian berarti harus gunakan pupuk dan pestisida kimia, NPK yang antara lain terdiri dari Urea, TSP dan KCL serta pestisida kimia pengendali hama sudah merupakan kebutuhan rutin para petani kita, dan sudah dilakukan sejak 1967 (masa awal orde baru) , dengan produk hasil pertanian mencapai puncaknya pada tahun 1984 pada saat Indonesia mencapai swasembada beras dan kondisi ini stabil sampai dengan tahun 1990-an.
    Petani kita selanjutnya secara turun temurun beranggapan bahwa yang meningkatkan produksi pertanian mereka adalah Urea, TSP dan KCL, mereka lupa bahwa tanah kita juga butuh unsur hara mikro yang pada umumnya terdapat dalam pupuk kandang atau pupuk hijau yang ada disekitar kita, sementara yang ditambahkan pada setiap awal musim tanam adalah unsur hara makro NPK saja ditambah dengan pengendali hama kimia yang sangat merusak lingkungan dan terutama tanah pertanian mereka semakin tidak subur, semakin keras dan hasilnya dari tahun ketahun terus menurun.
    Tawaran solusi terbaik untuk para petani Indonesia agar mereka bisa tersenyum ketika panen, maka tidak ada jalan lain, perbaiki sistem pertanian mereka, ubah cara bertani mereka, mari kita kembali kealam.
    System of Rice Intensification (SRI) yang telah dicanangkan oleh pemerintah (SBY) beberapa tahuin yang lalu adalah cara bertani yang ramah lingkungan, kembali kealam, menghasilkan produk yang terbebas dari unsur-unsur kimia berbahaya, kuantitas dan kualitas, serta harga produk juga jauh lebih baik. Tetapi sampai kini masih juga belum mendapat respon positif dari para petani kita, karena pada umumnya petani kita beranggapan dan beralasan bahwa walaupun hasilnya sangat menjanjikan, tetapi sangat merepotkan petani dalam proses budidayanya.
    Selain itu petani kita sudah terbiasa dan terlanjur termanjakan oleh system olah lahan yang praktis dan serba instan dengan menggunakan pupuk dan pestisida kimia, sehingga umumnya sangat berat menerima metoda SRI ini. Mungkin tunggu 5 tahun lagi setelah melihat petani tetangganya berhasil menerapkan metode tersebut.

    Solusi yang lebih praktis dan sangat mungkin dapat diterima oleh masyarakat petani kita mungkin dapat kami tawarkan, yaitu: BERTANI DENGAN POLA GABUNGAN SISTEM SRI DIPADUKAN DENGAN PENGGUNAAN PUPUK ORGANIK AJAIB LENGKAP AVRON / SO” + EFFECTIVE MICROORGANISME 16 PLUS ( EM16+ ).
    Cara gabungan ini hasilnya tetap PADI ORGANIK yang ramah lingkungan seperti yang dikehendaki pada pola SRI, tetapi cara pengolahan tanah sawahnya lebih praktis, dan hasilnya bisa meningkat 60% — 200% dibanding pola tanam sekarang.

    Semoga petani kita bisa tersenyum ketika datang musim panen.
    AYOOO PARA PETANI DAN SIAPA SAJA YANG PEDULI PETANI!!!! SIAPA YANG AKAN MEMULAI? KALAU TIDAK KITA SIAPA LAGI? KALAU BUKAN SEKARANG KAPAN LAGI?
    CATATAN: Bagi Anda yang bukan petani, tetapi berkeinginan memakmurkan/mensejahterakan petani sekaligus ikut mengurangi tingkat pengangguran dan urbanisasi masyarakat pedesaan, dapat melakukan uji coba secara mandiri system pertanian organik ini pada lahan kecil terbatas di lokasi komunitas petani sebagai contoh (demplot) bagi masyarakat petani dengan tujuan bukan untuk Anda menjadi petani, melainkan untuk meraih tujuan yang lebih besar lagi, yaitu menjadi agen sosial penyebaran informasi pengembangan system pertanian organik diseluruh wilayah Indonesia.
    Semoga Indonesia sehat yang dicanangkan pemerintah dapat segera tercapai.
    Terimakasih,
    Omyosa -- Jakarta Selatan
    02137878827; 081310104072

    BalasHapus